Factualinsight, Boven Digoel ─ Rabu, 11 Februari 2026, menjadi hari yang menorehkan luka baru dalam rentetan konflik bersenjata di Papua Selatan. Sebuah pesawat perintis yang melayani rute pedalaman Kabupaten Boven Digoel ditembak sesaat setelah mendarat di lapangan terbang Koroway Batu. Serangan tersebut menewaskan dua awak pesawat pilot dan kopilot yang tengah menjalankan tugas penerbangan sipil rutin.
Peristiwa tersebut terjadi pada 11 Februari 2026. Tanggung jawab atas serangan itu kemudian diklaim oleh Panglima TPNPB Wilayah Pertahanan XVI Yahukimo, Brigjen Elkius Kobak, bersama Komandan Operasi Mayor Kopitua Heluka. Klaim itu menyebut aksi tersebut sebagai bagian dari operasi kelompok mereka.
Dalam narasi yang beredar, kelompok bersenjata tersebut menyebut para korban sebagai “agen intelijen”. Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa keduanya merupakan pilot sipil profesional yang bekerja pada maskapai penerbangan perintis dan bertugas mengangkut penumpang serta logistik masyarakat pedalaman. Tidak terdapat bukti yang mendukung tuduhan bahwa keduanya terlibat dalam aktivitas intelijen atau operasi militer.
Stigmatisasi terhadap pekerja sipil sebagai aparat intelijen bukanlah pola baru dalam dinamika konflik Papua. Label tersebut kerap digunakan sebagai pembenaran atas tindakan kekerasan dan pembunuhan terhadap individu yang secara faktual tidak memiliki keterkaitan dengan struktur keamanan negara. Dalam konteks ini, dua kru pesawat menjadi korban dari klaim yang tidak terbukti, sementara keluarga dan komunitas penerbangan kehilangan tenaga profesional yang selama ini melayani wilayah terpencil.
Dampak insiden tersebut tidak berhenti pada jatuhnya korban jiwa. Buntut dari penembakan dua kru pesawat di Koroway Batu, besar kemungkinan tenaga kesehatan dan tenaga pendidik setempat menarik diri dari distrik tersebut dan wilayah sekitarnya. Langkah ini diambil demi menjamin keselamatan petugas, namun konsekuensinya sangat terasa bagi masyarakat.
Koroway dan wilayah pedalaman Boven Digoel merupakan daerah dengan akses terbatas terhadap fasilitas kesehatan. Transportasi udara menjadi nadi distribusi obat-obatan, tenaga medis, serta rujukan pasien darurat. Dengan ditariknya tenaga kesehatan dan terganggunya layanan penerbangan perintis, warga kini menghadapi risiko keterlambatan penanganan medis, meningkatnya angka kesakitan, hingga potensi korban yang sebenarnya dapat dicegah.
Peristiwa ini kembali memperlihatkan bagaimana tindakan kelompok separatis bersenjata tidak hanya menyasar simbol negara atau aparat keamanan, tetapi juga berdampak langsung pada masyarakat sipil. Pilot penerbangan perintis, tenaga kesehatan, guru, hingga warga kampung menjadi pihak yang paling rentan menanggung konsekuensi konflik.
Di tengah kompleksitas persoalan Papua yang sarat dimensi politik, historis, dan sosial, satu hal menjadi jelas, setiap aksi kekerasan yang mengorbankan sipil memperpanjang penderitaan masyarakat setempat. Tragedi di Koroway bukan sekadar catatan insiden keamanan, melainkan cerminan bagaimana tindakan kelompok separatis pada akhirnya merugikan warga yang paling membutuhkan perlindungan dan pelayanan dasar negara.
