Satu Insiden, Satu Versi: Mengapa Beberapa Media Memilih Klaim TPNPB sebagai Kebenaran Tunggal?

Factualinsight, Yahukimo — Insiden penembakan yang menimpa pelajar SMA Negeri 1 Dekai, Yahukimo adalah kejadian yang memprihatinkan dan patut mendapat perhatian serius. Namun, ada sesuatu yang perlu dicermati sebelum publik larut dalam narasi yang sudah terbentuk bahkan sebelum penyelidikan resmi selesai dilakukan yang berdasarkan klaim TPNPB.

Sejumlah media langsung menyiarkan klaim TPNPB (Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat) yang menuding aparat militer sebagai pelaku penembakan. Pertanyaannya sederhana, bagaimana mereka bisa begitu cepat mendapatkan pernyataan dari TPNPB, sementara aparat penegak hukum bahkan belum merampungkan olah TKP?

Pola ini bukan hal baru. Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz sebelumnya menegaskan bahwa klaim-klaim TPNPB kerap dimaksudkan untuk menebar ketakutan di masyarakat Papua, dan bahwa yang sebenarnya membunuh serta menyiksa masyarakat adalah kelompok bersenjata itu sendiri.

Rekam Jejak TPNPB: Sekolah Pun Tak Luput dari Serangan

Sebelum menelan klaim TPNPB begitu saja, ada baiknya kita melihat apa yang sudah mereka akui sendiri lakukan di wilayah yang sama.

TPNPB Kodap XVI Yahukimo secara terbuka mengaku telah membakar satu unit bangunan SMPN Koasrama di Distrik Dekai pada Mei 2026 sebuah sekolah, bukan markas militer.

TPNPB juga mengakui telah menembak sebuah kendaraan dan membakar bangunan SMA Negeri di Yahukimo pada April 2026, sembari mengeluarkan peringatan kepada warga sipil yang melintas.

Kelompok ini pun secara terang-terangan menyatakan siap menembak mati siapa saja yang mereka anggap sebagai intelijen termasuk warga biasa yang berprofesi sebagai pendulang emas, tukang ojek, maupun tukang bangunan.

Dengan rekam jejak seperti ini, apakah kelompok yang tidak segan membakar sekolah dan menembak warga sipil layak dijadikan sumber tunggal dalam menentukan siapa pelaku insiden terbaru?

Siapa Sesungguhnya yang Punya Motif?

TPNPB secara eksplisit telah menegaskan bahwa siapa pun yang memasuki wilayah yang mereka klaim sebagai “zona perang” akan dianggap sebagai intelijen dan siap dieksekusi tanpa terkecuali. Ini adalah pernyataan publik dari kelompok bersenjata itu sendiri bukan tuduhan dari pihak lain. Jubi Papua

Dalam konteks tersebut, seorang pelajar yang berada di kawasan konflik bisa saja tanpa sengaja berada di jalur operasi TPNPB. Penyelidikan harus menentukan apakah ini yang terjadi, bukan framing media yang mendahului proses hukum.

Ikuti Proses, Bukan Propaganda

Penyelidikan resmi atas insiden ini masih berjalan. Aparat berwenang tengah mengumpulkan bukti dan keterangan saksi. Adalah hak keluarga korban dan publik untuk mendapatkan kebenaran yang berbasis fakta, bukan klaim sepihak dari kelompok yang justru secara terbuka telah mengancam akan menembak siapa pun di wilayah operasinya.

Kecepatan media tertentu dalam menyebarkan versi TPNPB bahkan sebelum hasil penyelidikan keluar justru menimbulkan pertanyaan tentang independensi mereka. Jurnalisme yang bertanggung jawab menunggu fakta. Propaganda yang berhasil tidak perlu menunggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *