Pembunuhan Pilot Asal Amerika di Yahukimo, Pelanggaran HAM Berat yang Mengungkap Wajah Sebenarnya KKB

Factualinsight, Papua Pegunungan — Tragedi mengerikan kembali menimpa dunia penerbangan sipil di Papua. Pilot asal Amerika Serikat, Nicholas F. Goselin (30), tewas ditembak dan pesawat Pilatus PK-RCY milik PT Asian One Air (AMA) dibakar habis di Lapangan Terbang Balinggama, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, Kamis (2/7/2026).

Kelompok bersenjata yang kerap disebut KKB atau TPNPB mengklaim bertanggung jawab atas aksi tersebut. Namun, di balik klaim “perjuangan”, tindakan ini jelas merupakan pelanggaran berat terhadap Hak Asasi Manusia yang tidak dapat dibenarkan.

Aksi pembunuhan terhadap warga negara asing yang sedang menjalankan tugas sipil mengangkut logistik ke daerah terpencil bukanlah peristiwa terisolasi. Selama bertahun-tahun, pola serupa berulang, pembunuhan terhadap penduduk asli Papua, pendatang dari berbagai daerah, hingga ekspatriat yang bekerja untuk kepentingan masyarakat.

Baik pilot, guru, tenaga kesehatan, maupun warga sipil biasa sering menjadi korban. Alasan yang dikemukakan kelompok ini kerap kabur, kontradiktif, dan jauh dari prinsip perjuangan yang terhormat. Jika tujuan utamanya adalah “membebaskan Papua”, mengapa korban yang paling sering berjatuhan justru adalah orang-orang Papua sendiri dan mereka yang membantu menghidupkan wilayah ini?

Pertanyaan mendasar pun muncul, Apakah ini yang disebut perjuangan? Dan siapa yang sebenarnya mereka perjuangkan? Sebuah perjuangan yang sah seyogianya menjunjung nilai kemanusiaan, bukan justru sengaja menebar teror dan ketakutan.

Pembunuhan berulang terhadap warga sipil, termasuk warga negara asing yang tidak bersenjata, hanya memperlihatkan wajah kelompok yang lebih tertarik pada kekerasan daripada solusi politik yang bermartabat. Alih-alih membawa kemajuan bagi rakyat Papua, aksi-aksi semacam ini semakin memperlemah harapan damai dan hanya meninggalkan duka serta kehancuran.

Kasus ini kembali mengingatkan semua pihak bahwa kekerasan buta bukanlah jalan menuju keadilan, melainkan jalan menuju lingkaran setan penderitaan yang tak berujung bagi seluruh masyarakat Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *