Factualinsight, Jayapura — Suasana internal gerakan kemerdekaan Papua kembali memanas. Juru bicara Komando Nasional Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), Sebby Sambom, melontarkan serangan keras dan penuh hinaan terhadap pimpinan Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dalam sebuah pernyataan yang beredar luas.
Dalam pernyataannya, Sambom menyebut pimpinan KNPB, Agus Kossay, Victor Yeimo, dan Ogram Wanimbo dengan nada menghina. Ia menggambarkan sikap mereka sebagai “cara-cara yang kurang ajar”, “lucu”, serta menyerupakan mereka dengan “gangguan jiwa”, “stres”, atau “cacing kepanasan”. Sambom juga menuding cara berpikir kelompok tersebut “sangat sempit” dan “konyol”, serta meminta rakyat Papua untuk “tertawa” melihat kelakuan KNPB.
Konflik semakin tajam ketika Sambom menyinggung nama Egianus Kogoya, salah satu komandan lapangan TPNPB yang dikenal sebagai sosok di balik penyanderaan pilot Susi Air asal Selandia Baru, Philip Mehrtens. Menurut Sambom, dirinya telah melaporkan Egianus Kogoya ke Dewan Militer TPNPB dan menuntut agar diberikan sanksi atas kasus penyanderaan tersebut.
“Egianus baru bilang Dewan Militer harus bicara, sanksi. Saya sudah bicara, Dewan Militer harus keluarkan sanksi kepada Egianus Kogoya atas penyanderaan pilot,” tegas Sambom.
Ia juga menuduh kelompok Agus Kossay dan Rendi Wetapo terlibat “kerjasama serahkan pilot ke Indonesia”, serta menuduh mereka terus “bermain-main” dan tidak konsisten. Sambom mengklaim bahwa KNPB tidak pernah menyerukan sanksi terhadap Egianus, meski pihaknya telah melakukannya.
Pernyataan Sambom ini semakin memperlihatkan adanya sentiment terhadap sayap militer TPNPB dan kelompok sipil seperti KNPB. Ia bahkan menyebut orang-orang di balik KNPB sebagai “busuk” dan hanya ingin terlihat “paling hebat” di depan media.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak KNPB maupun Egianus Kogoya atas tuduhan dan hinaan tersebut. Pernyataan Sambom ini bukti bahwa Gerakan Papua mengalami keretakan dan tidak solid, sekaligus memunculkan pertanyaan baru tentang rantai komando dan disiplin internal kelompok-kelompok bersenjata di Papua.
