KKB Kembali Berulah di Manggelum, Masyarakat Papua Minta Kehadiran TNI Diperkuat

Factualinsight, Boven Digoel — Aksi teror Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Kodap XVI/Yahukimo Batalyon Kanibal pimpinan Kopitua Heluka kembali menimbulkan ketakutan mendalam bagi warga Distrik Manggelum, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan. Serangan yang terjadi sejak 31 Mei 2026 terhadap Pos TNI di Bandara Manggelum, rumah warga, dan Sekolah Dasar Manggelum memaksa ratusan masyarakat melarikan diri ke hutan dan menyeberangi sungai dengan perahu.

Dalam konferensi pers yang digelar Pemda Boven Digoel pada Jumat, 5 Juni 2026 di ruangan kerja Bupati, Bupati Roni Omba, S.I.P bersama Kadis Kominfo Maria Payunglangi, S.Sos dan Kepala Distrik Manggelum Ruben Anggenggom memaparkan situasi terkini serta upaya penanganan pengungsi.

Menurut Kepala Distrik Manggelum Ruben Anggenggom, insiden tersebut membuat warga ketakutan hingga melarikan diri. “Sejak tanggal 31 Mei terjadi sebuah insiden yang menimbulkan ancaman di kampung kami, sehingga masyarakat merasa ketakutan dan melarikan diri ke hutan, serta berenang dan hanyut menggunakan perahu,” jelasnya. Sebanyak 61 jiwa tercatat di Kampung Biwage, dengan satu korban tenggelam yang hingga kini jenazahnya belum ditemukan. Informasi terbaru menyebutkan 52 orang lagi telah masuk ke Biwage, sehingga total warga yang masih berada di lokasi mencapai 113 orang.

Pemerintah daerah telah mendahulukan penanganan kesehatan terhadap para pengungsi yang tiba di Tanah Merah. Bupati Roni Omba menegaskan prioritas utama adalah menyelamatkan tenaga kesehatan dan warga sipil. Pemerintah menyediakan pelayanan kesehatan, transportasi, dan makanan bagi para pengungsi. Untuk sementara, mereka tidak ditampung secara massal, namun dilakukan pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu.

Pernyataan sikap masyarakat Distrik Manggelum dalam konferensi pers tersebut menjadi bantahan tegas terhadap narasi yang selama ini beredar. Ruben Anggenggom menyampaikan bahwa masyarakat justru menyetujui penuh kehadiran TNI-Polri di wilayah mereka.

“Mengenai aspek keamanan, masyarakat menyatakan persetujuan penuh terhadap kehadiran TNI di Distrik Manggelum,” tegas Kepala Distrik.

Pernyataan ini sekaligus membantah klaim pihak-pihak tertentu yang mengatakan masyarakat Papua menolak kehadiran TNI-Polri dengan alasan tindakan represif. Realita di lapangan menunjukkan sebaliknya, ketika kelompok bersenjata KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata) melakukan penyerangan, pembakaran, dan teror, masyarakat sipil yang menjadi korban justru meminta perlindungan lebih dari aparat keamanan negara.

Bupati Roni Omba juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melaporkan setiap informasi yang berkembang, baik positif maupun negatif, agar dapat diambil langkah yang tepat. Pemerintah daerah akan terus memantau kondisi di Manggelum, termasuk fasilitas umum yang rusak akibat pembakaran.

Aksi teror yang dilakukan kelompok separatis bersenjata ini bukan hanya menimbulkan kerugian material, tetapi juga trauma psikologis dan korban jiwa di kalangan warga sipil. Kejadian di Manggelum kembali memperkuat fakta bahwa kehadiran TNI-Polri di Papua bukanlah ancaman, melainkan kebutuhan mendesak bagi keselamatan masyarakat Papua sendiri.

Pemerintah Kabupaten Boven Digoel bersama aparat keamanan terus berkoordinasi untuk memulihkan keamanan di Distrik Manggelum agar warga dapat kembali ke rumah mereka dengan tenang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *