Factualinsight, Intan Jaya — Ledakan yang diduga berasal dari bahan peledak mirip granat di halaman Gereja Stasi Santo Paulus Nabuni Mbamogo, Distrik Agisiga, Kabupaten Intan Jaya, telah menimbulkan korban luka sebanyak lima warga sipil. Insiden yang terjadi pasca-Misa ini memicu kontroversi setelah kelompok bersenjata yang mengidentifikasi diri sebagai OPM/TPNPB-KKB dengan cepat merilis video tuduhan yang menyalahkan aparat keamanan sebagai pelaku.
Video tersebut memunculkan beberapa kejanggalan signifikan yang layak dipertanyakan.
Bahan Peledak Utuh yang Dipertontonkan
Dalam video yang beredar, kelompok KKB tersebut terlihat memamerkan sebuah bahan peledak yang masih utuh dan tidak menunjukkan kerusakan berarti, hal ini justru menimbulkan kecurigaan bahwa bisa saja pelaku pengeboman tersebut Adalah kelompok KKB itu sendiri. Dengan memamerkan bahan peledak tersebut, hal itu menjadi salah satu bukti bahwa kelompok KKB juga memiliki benda berbahaya tersebut yang bisa saja digunakan kapanpun.
Kondisi Bahan Peledak Yang Masih Utuh
Berdasarkan berita yang beredar, ledakan yang mampu melukai hingga 4-5 orang di area terbuka semestinya menghasilkan daya ledak kuat disertai fragmentasi. Sebuah benda yang meledak biasanya akan hancur berkeping-keping atau mengalami kerusakan struktural parah. Kondisi bahan peledak yang masih utuh sebagaimana ditampilkan dalam foto dan video yang beredar menimbulkan pertanyaan serius mengenai apakah benda tersebut benar-benar meledak di lokasi kejadian.
Respons Kilat Dengan Tuduhan
Kejanggalan lain terletak pada kecepatan luar biasa kelompok ini dalam memproduksi dan menyebarkan video tersebut. Hanya dalam waktu singkat setelah ledakan, mereka sudah mampu memamerkan bahan peledak yang diklaim sebagai bukti di depan kamera. Padahal, barang bukti peledakan seharusnya diamankan untuk pemeriksaan forensik guna menentukan asal-usul, jenis, dan pelaku.
Dengan memamerkan bahan peledak tersebut secara terbuka, kelompok ini dianggap berniat menghilangkan atau mencemari rantai bukti yang krusial. Hal ini memunculkan dugaan bahwa ledakan yang kerap terjadi di Papua justru dilakukan oleh kelompok KKB sendiri, kemudian diikuti dengan pembuatan video tuduhan yang cepat untuk menyalahkan aparat. Taktik semacam itu dapat dimaksudkan untuk memecah belah hubungan masyarakat dengan aparat keamanan, memperburuk ketegangan, dan menciptakan narasi provokatif di tengah masyarakat yang sedang trauma.
