Factualinsight, Jayapura — Juru bicara kelompok bersenjata pro-kemerdekaan membantah tudingan bahwa pihaknya melakukan penculikan atau penyanderaan terhadap warga sipil. Ia menyebut laporan tersebut sebagai bentuk propaganda yang disebarkan pihak militer untuk membentuk citra negatif terhadap kelompoknya. Menurutnya, pasukan yang mereka kendalikan tidak menjadikan warga biasa sebagai target dalam konfrontasi bersenjata.
Namun, fakta yang terungkap di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Seorang ibu orang asli Papua tewas ditembak di tempat, sementara anaknya dilempar ke jurang hingga mengalami patah kaki. Peristiwa ini terjadi usai kelompok bersenjata tersebut melakukan penyerangan terhadap pos keamanan, yang juga menewaskan seorang prajurit TNI.
Laporan warga menyebutkan bahwa sejumlah perempuan, sebagian besar masih di bawah umur, dibawa secara paksa. Dua orang ibu yang berusaha melindungi anak mereka menjadi korban kekerasan, satu meninggal dunia akibat tembakan, dan satu lagi mengalami luka serius setelah dilempar ke jurang. Polisi menduga pelaku merupakan kelompok yang sama dengan yang melakukan serangan sebelumnya.
Pernyataan bantahan dari juru bicara kelompok bersenjata tersebut bertolak belakang dengan kesaksian warga dan temuan di lapangan. Kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak sipil ini kembali menimbulkan pertanyaan mengenai klaim bahwa kelompok tersebut tidak menargetkan masyarakat biasa.
Aksi membawa paksa warga sipil, terutama perempuan dan anak-anak, serta kekerasan terhadap ibu yang mencoba melindungi keluarganya, semakin memperjelas kesenjangan antara narasi yang disampaikan dan kenyataan di lapangan. Ketika klaim tidak menargetkan warga sipil dibantah oleh fakta korban yang jatuh, kepercayaan publik terhadap pernyataan kelompok bersenjata tersebut semakin dipertanyakan.
