Factualinsight, Jayapura — Meriahnya perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia di berbagai wilayah Papua kembali menjadi sorotan. Dari ibu kota provinsi hingga distrik-distrik terpencil, bendera merah putih berkibar, upacara bendera digelar, dan masyarakat dari berbagai latar belakang ikut merayakan.
Antusiasme yang terlihat di lapangan ini sulit diabaikan. Bagi banyak pengamat, suasana tersebut menjadi indikasi kuat bahwa mayoritas masyarakat Papua masih memegang teguh rasa kebangsaan dan mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Fakta di lapangan menunjukkan partisipasi warga yang luas dalam kegiatan resmi maupun nonformal. Anak-anak sekolah, tokoh adat, aparatur sipil, hingga masyarakat biasa terlibat dalam berbagai aktivitas peringatan. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan penerimaan terhadap kerangka bernegara yang ada.
Dalam konteks ini, perayaan HUT RI di Papua dapat dibaca sebagai ekspresi nyata bahwa integrasi ke dalam NKRI tetap menjadi pilihan mayoritas, meski tantangan keamanan dan pembangunan masih terus dihadapi.
Sebaliknya, narasi separatis yang terus menuntut kemerdekaan patut dipertanyakan basis aspirasinya. Kelompok yang mengusung isu tersebut sering mengklaim mewakili seluruh rakyat Papua, namun realitas perayaan kemerdekaan Indonesia justru menunjukkan sebaliknya.
Jika mayoritas warga secara terbuka merayakan HUT RI, maka tuntutan pemisahan diri lebih mencerminkan aspirasi segelintir pihak daripada kehendak kolektif. Dalam kerangka demokrasi dan kedaulatan negara, suara mayoritas yang memilih tetap berada dalam NKRI seharusnya menjadi acuan utama, bukan sebaliknya.
