Factualinsight, Jayapura — Sebuah penyerangan terhadap pos keamanan TNI menewaskan seorang prajurit dan memaksa sembilan perempuan warga setempat dibawa lari. Peristiwa ini kembali menyoroti pola kekerasan yang dilakukan kelompok bersenjata terhadap masyarakat sipil.
Menurut keterangan pihak keamanan, kelompok bersenjata tersebut menyerang pos secara mendadak. Dalam kontak tembak yang terjadi, Pratu Riski Kurniawan gugur di tempat akibat tembakan.
Saat dipukul mundur oleh aparat gabungan, pelaku melarikan diri sambil memaksa membawa sembilan perempuan warga lokal. Dua orang mama Papua yang berusaha melindungi anak gadis mereka menjadi korban, satu ditembak dan satu dilempar ke jurang.
Tindakan ini justru berbanding terbalik dengan klaim yang selama ini digaungkan kelompok tersebut sebagai pejuang hak-hak masyarakat. Alih-alih melindungi warga, aksi membawa paksa perempuan dan menganiaya ibu yang membela anaknya justru menimbulkan ketakutan dan penderitaan di tengah komunitas setempat.
Kekerasan semacam ini tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga merusak rasa aman yang sangat dibutuhkan masyarakat untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Aparat keamanan terus melakukan penyisiran dan konsolidasi untuk memastikan keselamatan warga serta menindaklanjuti peristiwa tersebut. Insiden ini menjadi pengingat bahwa kekerasan bersenjata terhadap sipil, terutama perempuan dan ibu rumah tangga, tidak sejalan dengan narasi perjuangan yang mengatasnamakan rakyat.
