Factualinsight, Yahukimo — Pembunuhan seorang perempuan asal Yahukimo oleh kelompok KKB kembali mengejutkan publik. Kelompok ini mengklaim korban sebagai “agen intelijen militer Indonesia” dan mengeksekusinya tanpa proses hukum.
Tindakan tersebut merupakan bentuk kekerasan keji yang melampaui batas kemanusiaan, di mana seorang warga sipil tak berdosa menjadi korban tuduhan sepihak dan eksekusi brutal di tengah jalan umum.
Pola pembunuhan dengan dalih “agen intelijen” ini semakin menunjukkan watak kelompok bersenjata yang tidak segan menyasar sesama masyarakat Papua. Alih-alih berjuang untuk rakyat, aksi mereka justru menebarkan teror dan ketakutan di kalangan warga sipil.
Pembunuhan terhadap perempuan tak berdosa ini semakin mempertegas bahwa kekerasan yang terjadi di Papua kerap berasal dari kelompok bersenjata, bukan semata-mata dari operasi aparat keamanan.
Ironisnya, selama ini berbagai lembaga HAM seperti Komnas HAM dan beberapa LSM kerap menuduh aparat sebagai pelaku utama kekerasan di Papua. Namun, kasus eksekusi perempuan di Yahukimo ini membuktikan siapa sebenarnya yang secara sistematis melakukan teror dan pembunuhan terhadap warga sipil.
Sudah saatnya semua pihak melihat fakta di lapangan dengan jernih, agar korban-korban tak berdosa tidak terus berjatuhan dan upaya perdamaian di Tanah Papua dapat segera diwujudkan.Kejadian ini juga memberikan pelajaran penting bahwa kelompok KKB kerap playing victim.
Mereka melakukan kekerasan brutal terhadap warga sipil, namun kemudian berusaha membalik narasi dengan menuduh aparat sebagai pelaku utama. Pola playing victim ini hanya semakin memperlihatkan ketidakjujuran mereka dalam menyajikan realita konflik di Papua.
